Merahasiakan Ibadah, Amal dan Keistimewaan Dari Manusia (Ikhlas Karena Allah)

Ketika kita berharap orang lain melihat keistimewaan yang ada di diri kita, maka itu membuktikan atau menunjukan tidak jujurnya kita dalam ke’abdian.

Orang yang diberi keistimewaan oleh Allah itu seharusnya semata-mata ingin dilihat dan dipuji oleh Allah swt. Apabila ada orang yang diberi keutamaan atau sifat yang mulya, seperti bisa zuhud, tawakal, ridha, pasrah, bisa ma’rifat, atau mendapatkan karomah, kemudian keistimewaan-keistimewaan tersebut ingin dilihat oleh manusia, nah hal tersebut adalah termasuk kedalam riya yang samar, dan menunjukan tidak adanya kejujuran dalam sifat ke’abdian.

Sebab seharusnya orang yang diberi keistimewaan itu harus merasa cukup dengan penglihatan dari Allah, tegasnya ingin dilihat hanya oleh Allah, tidak ingin dilihat oleh manusia. Karena manusia itu sifatnya wujud ‘aridhi dan bakal rusak, sehingga penglihatannya tidak ada manfaatnya dan tidak ada madharatnya. Maka jangan memperhatikan pujian dan celaan manusia.

Orang yang mendapatkan keistimewaan seharusnya menyembunyikan keistimewaannya dan menutupinya, jangan sampai ada orang lain yang tahu kecuali gurunya. Apabila diperlihatkan kepada orang lain maka akan sangat berbahaya, sebab kadang ada orang yang memuji berlebihan (seolah-olah seperti memotong leher).

Kalau keistimewaan tidak ingin hilang atau bahkan ingin bertambah maka harus disembunyikan. Misalkan seseorang yang memperlihatkan uang yang banyak, maka nantinya uang dia akan dicuri maling. Atau seperti orang yang menanam biji-bijian kalau dilihat oleh ayam, maka pasti akan dimakan, nantinya walaupun tumbuh tetapi tidak akan sempurna. Jadi apabila ingin sempurna maka menanamnya harus dikubur, jadi bijinya aman, dan akan subur.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima puluh delapan)