Bolehkah Menceritakan Amal Shalih Atau Keistimewaan Kepada Orang Lain

Ahli suluk itu tidak boleh menceritakan tentang pemberian dari Allah, yaitu dari cahaya yang datang ke dalam hatinya. Maksudnya adalah orang yang berjuang mendapatkan titel yang mulya, yaitu ingin jadi ahli ma’rifat ke Allah, maka hasil takwanya oleh Allah sering diberi macam-macam keistimewaan. Yaitu hatinya didatangin cahaya yang membawa semangat ma’rifat kepada Allah dan rasa cinta kepada Allah.

Nah keutamaan diatas tidak boleh diceritakan tetapi harus disembunyikan. Apabila diperlihatkan kepada orang lain maka itu menunjukkan kurangnya keikhlasan. Dan menceritakan tingkah yang ada di dalam hati, itu timbul dari sedikitnya kejujuran di hadapan Allah.

Cahaya yang datang ke dalam hati, yang mendorong adanya pergolakan rasa cinta, itu merupakan paksaan dari Allah. Ketika keadaan hati bergolak yang dipenuhi rasa takut dan rasa cinta, lalu keadaan demikian diceritakan kepada orang lain, maka hal itu dapat mendinginkan bergolaknya rasa cinta dan memadamkan cahayanya. Misalnya orang yang merebus air, bila sudah mendidih lalu disiram dengan air dingin, maka akan lama lagi memanaskannya, apalagi kalau apinya kecil, akhirnya tidak bergolak lagi.

Begitu pula dengan cahaya di dalam hati ahli suluk yang diberikan Allah, itu mendidihkan hati. Sehingga jadi semangat cinta kepada Allah  swt.

Bila dicerita-ceritakan kepada orang lain, maka cahaya yang ada di dalam hati tidak bergolak. Nah ini menunjukkan kurangnya kejujuran, intinya belum kuat menyembunyikannya. Sehingga ada sedikit rasa ingin terkenal, yang mendorong adanya pandangan diluar Allah, jadi dicerita-ceritakan keistimewaannya.

Maka tiap-tiap tingkah yang bagus itu tidak pantas untuk diceritakan, karena kalau diceritakan si nafsu jadi hidup lagi, kemudian akan datang pujian, sedangkan nafsu itu senang dipuji. Kecuali kalau diceritakan itu dengan maksud agar amalnya ditiru atau diikutin oleh murid-muridnya. Maka hal demikian bagus kalau dengan niat yang bagus.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus delapan puluh dua)