Janganlah Berputus Asa Dari Rahmat dan Ampunan Allah

Siapa saja orang yang menyebut aneh/nganggap jauh menyelamatkannya Allah terhadap orang tersebut dari syahwatnya. Dan menghitung-hitung jauh menyelamatkannya Allah dari ke ghaflahan orang tersebut. Maka orang tersebut sudah menghitung-hitung apes terhadap qudratnya Allah (menganggap Allah tidak mampu). Sedangkan Allah berfirman: “Sebenar-benarnya Allah yakin yang kuasa menjadikan sesuatu semuanya mungkin”

Orang yang penuh dengan ghaflah dan kema’siyatan jangan sampai putus asa, jangan sampai punya fikiran bahwa Allah tidak akan bisa menghilangkan ghaflahnya dan tidak akan bisa menyelamatkan dosanya. Karena kalau orang sudah punya anggapan seperti itu, berarti dia sudah menghitung-hitung/menganggap apes ke Allah swt. Sedangkan Allah itu mempunyai sifat qudrat, yang kuasa mendataangkan segala perkara, seperti menghilangkan ghaflah dan menyelamatkan dari syahwat. Intinya kita semua jangan merasa was was, bahwa sebenar-benarnya Allah itu tidak mungkin (mustahil) apes.

Hatinya manusia semua itu diolah oleh Allah swt menurut/sesuai dengan keinginan-Nya, serta di bolak-balik sesuai keinginan-Nya. Jadi bagi orang yang sedang dipenuhi dengan ghaflah dan tenggelam dalam lautan syahwat, jangan beranggapan bahwa Allah tidak mungkin menyelamatkan dirinya, karena bila berfikiran demikian akan merusak keimanan. Jangan seperti itu, tetapi harus mempunya raja’(pengharapan) yang besar kepada Allah. Bergantung kepada-Nya dan husnudhon bahwa Allah pasti akan menga mpuni, Allah akan menghilangkan sifat ghaflah, dan menyelamatkan dari syahwat. Hal ini semua karena Allah memiliki sifat rahman rahim, maha ghafurur rahim dan tawwabur rahim.

Sehingga Allah berfirman kepada orang yang berma’siyat: “Yaa ‘ibaadiyalladziina asrafuu ‘alaa anfusihim laa taqnatuu mir rahmatillaahi innallaaha yaghfiruudz dzunuuba jamiian”, Hai ‘abdi-‘abdi-Ku yang agung, yang berlebihan, yang dhalim terhadap badannya. Hati-hati, jangan sampai putus asa dari rahmat-Ku, sebenar-benarnya Allah yang mengampuni segala dosa-dosa semuanya.

Dan juga firman-Nya: “faman taa ba mimba’di dhulmihi wa ashlaha fainnallaaha yatuubu ‘alaihi”, siapa saja orang yang taubatainnallaaha yatuubu ‘alaihi”, siapa saja orang yang taubat setelah dhalim, serta melakukan kebenaran dengan tho’at kepada Allah swt. Maka sebenar-benarnya Allah akan mengampuni orang tersebut.

Menurut Rasulullah saw apabila kita berbuat dosa, sampai dosa itu memenuhi langit, lalu kita bertaubat kepada Allah swt, maka Allah swt akan menerima taubat kita dan mengampuninya.

Kita juga harus memperhatikan kejadian orang-orang zaman dahulu, golongan orang-orang ghaflah dan ahli ma’siyat. Setelah mereka bertaubat kepada Allah swt, mereka kemudian menjadi ahli musyahadah dan ahli ma’rifat, yang awalnya penjahat akhirnya menjadi orang hebat. Contohnya Ibrahim bin Adham, Hudzail bin Iyadh, dan lain-lain, awalnya mereka adalah ahli ma’siyat kemudian akhirnya menjadi ahli ma’rifat.

Ada sebuah riwayat seorang lelaki yang membunuh 99 orang, lalu dia datang ke pendeta yahudi bertanya tentang taubat, menurut pendeta itu dia tidak akan diampuni, kemudian si lelaki itu mencabut pedang dan membunuh pendeta itu. Sehingga jadi 100 yang dibunuh oleh si lelaki itu. Kemudian si lelaki berjalan menemui seorang ‘alim yang bijaksana dan mengemukakan keinginannya untuk bertaubat, lalu oleh orang ‘alim itu ditunjukkan sebuah kampung (tempat) yang orang-orangnya beribadah kepada Allah swt, dan mengatakan kepada si pembunuh itu bahwa dia akan diampuni. Lalu si lelaki itu menuju ke kampung yang orang-orangnya ahli ibadah, tetapi ditengah jalan ajalnya dia menjemput (meninggal). Maka roh nya si lelaki dibawa oleh malaikat rahmat untuk diselamatkan oleh Allah swt.

Jadi kesimpulannya sangat diperlukan sekali bagi orang-orang yang berdosa, agar memiliki keinginan dosanya diampuni oleh Allah swt dan jangan sampai putus asa.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus delapan puluh sembilan)