Macam-Macam Rasa Takut dan Rasa Cinta Menurut Islam

Tidak ada yang bisa mengeluarkan syahwat didalam hati kecuali datangnya ketakutan. Dan datangnya kesukaan (rasa suka) yang mengoncangkan.

Syahwat yang muncul dari dalam hati apabila sudah menempel tidak ada yang bisa mengeluarkannya, kecuali oleh datangnya (munculnya) ketakutan yang merupakan paksaan dari Allah swt, atau datangnya kesukaan (rasa suka) yang merupakan kebaikan dari Allah.

Jadi apabila seseorang mempunyai rasa suka terhadap suatu perkara, yang terasa enak oleh rohaninya. Seperti rasa suka terhadap keagungan, suka menjadi pemimpin, suka dipuji, suka terhadap keitimewaan, yang menghalangi dari menghadap kepada Allah, itu tidak akan hilang kecuali dengan diberi ketakutan. Sehingga dengan adanya ketakutan jadi lupa terhadap syahwatnya, atau kedatangan rasa cinta yang sangat kuat. Bila kedatangan rasa cinta yang sangat kuat akan menjadi hilang syahwatnya.

Perlu diketahui bahwa rasa takut itu ada dua, yaitu:

  1. Takutnya golongan orang biasa.
  2. Takutnya golongan orang-orang pilihan Allah.

Takutnya orang golongan biasa adalah seperti takut siksaan, sedangkan takutnya orang mulia yaitu khawatir (takut) kepada Allah dan takut akan datangnya hijab yang bisa menghalangi dirinya dari ma’rifat kepada Allah swt.

Rasa cinta juga ada dua, yaitu:

  1. Rasa cinta orang/golongan sedang, yaitu senang atau terpesona ingin bidadari dari surga, atau menginginkan gedung indah di surga.
  2. Cintanya golongan pilihan Allah yang mulia, yaitu seperti cintanya akan musyahadah kepada Allah, dan ingin sampai ke hadhratul qudsiyyah.

Keinginannya (rasa suka) orang golongan sedang itu adalah terhadap segala keindahan yang berwujud fisik di surga, seperti yang difirmankan oleh Allah swt: “A’addallaahul mu’miniina wal mu’minaati jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru khaalidiina fiihaa wamasaakina thayyibatan fii jannati ‘adnin”, yang maksudnya adalah dengan adanya perjanjian Allah ingin mendapatkan kenikmatan surga.

Sedangkan rasa cintanya orang yang mulya adalah untuk menghsailkan kenikmatan rohani, seperti yang difirmankan Allah swt: “waridhwanun minallaahi akbaru dzaalika huwal fauzul ‘adhiimu.”, intinya ingin mendapatkan keridhaan Allah.

Mudah-mudahan Allah swt menjadikan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mulya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sembilan puluh empat)