Keutamaan Para Wali dan Ucapan Yang Memberikan Dampak Yang Sempurna Terhadap Pendengar

Orang yang sudah mencapai taraf ilmu kema’rifatan, sehingga dirinya sudah diizinkan oleh gurunya, maka ucapannya beres dan bisa dimengerti.

Ilmu kema’rifatan terkadang bisa dikemukakan serta fashehat dan bilaghah oleh orang yang belum bisa sampai ilmunya dan belum mendapat izin gurunya. Tapi keadaan cahayanya suram, sehingga tidak terasa tapak (jejak) manisnya bahasa, dan tidak terlalu terasa enaknya omongan, sehingga tidak mendatangkan tapak (dampak) yang sempurna.

Berbeda sekali dengan ucapan yang muncul dari hukama’ yang sudah mendapatkan izin mengucapkannya (oleh gurunya atau langsung dari Allah), yaitu seperti yang datang kepada wali-walinya Allah, maka cahaya ucapannya sudah bersinar tembus ke dalam hati sami’in. Sehingga bahasa atau ucapan yang dikemukakan oleh hukama’ masuk ke dalam hati sami’in yang sudah bercahaya.

Alasan kenapa orang yang belum sampai ke taraf ma’rifat ucapannya tidak masuk ke dalam hatinya sami’in, adalah karena cahayanya masih suram. Para wali itu diberi keutamaan oleh Allah, sehingga mereka bisa mendatangkan ‘ibarat-‘ibarat kema’rifatan dan macam-macam ilmu hakikat dengan jelas.

Menurut Abu al ‘Abbas al mursyi bahwa para wali Allah itu sudah dipenuhin dengan macam-macam kema’rifatan, macam-macam ilmu, dan macam-macam hakikat dari Allah swt. Dimana-mana mereka mendatangkan ‘ibarat, maka ‘ibarat itu seolah-olah sudah mendapatkan izin dari Allah. Omongan yang mendapatkan izin dari Allah yaitu omongannya muncul dari isi hatinya serta terlihat keindahannya.

Sedangkan ucapan yang tidak mendapat izin dari Allah suram cahayanya. Sehingga bila ada satu omongan (ucapan) dalam kema’rifatan diucapkan oleh dua orang serta bahasanya (ucapannya) sama, maka orang yang sudah diizinkan oleh Allah pasti akan mendatangkan tapak (dampak) yang sempurna. Sedangkan orang yang tidak diizinkan oleh Allah tidak ada tapaknya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tujuh puluh delapan)