Ingatlah Kepada Allah Ketika Kita Sedang Mendapatkan Nikmat Dan Janganlah Berputus Asa Ketika Kita Berbuat Dosa

Dibawah ini akan dijelaskan hikmah didatangkannya ghaflah dan syahwat oleh Allah swt, lalu Allah menyelamatkan manusia dari ghaflah dan syahwat tersebut. Yaitu supaya manusia tahu tentang ukuran kenikmatan yang diserahkan kepada orang tersebut oleh Allah swt.

Datangnya kenikmatan dari Allah swt, bisa ma’rifat dan bisa takwa setelah kedatangan dulu ghaflah dan syahwat, maka akan terasa besar sekali kenikmatan diberi bisa ma’rifat kepada Allah swt. Sebab sesuai dengan patokan, bahwa berhasilnya suatu perkara setelah cape terlebih dahulu dalam mencarinya, maka akan terasa besar sekali kebahagiaannya. Misalnya cinta yang terlebih dahulu putus dulu akan terasa lebih kuat daripada cinta yang tidak pernah putus/pisah dulu. Atau indahnya persahabatan setelah mengalami pertengkaran, atau sehat setelah mengalami sakit. Sehingga bila Allah akan memberi nikmatnya sehat, maka sering memberi sakit dulu.

Biasanya orang yang tidak sadar terhadap sehat (suatu kenikmatan dari Allah), maka oleh Allah swt sering dicabut kenikmatannya, yaitu supaya ingat terhadap kenikmatan pemberian dari Allah swt.

Dimana-mana kita sedang kedatangan kenikmatan, maka kita harus banyak ingat kepada Allah swt, bergantung kepada-Nya, istighfar, ridha dan sabar terhadap ketentuan dari Allah, dan harus husnudhon dengan adanya Allah memiliki sifat rahman rahim. Dirinya akan diampuni oleh Allah swt, dan akan ditinggikan martabatnya oleh Allah, dan akan diganti keburukannya dengan kebaikan.

Jadi jangan putus asa apabila kita sedang ghaflah sambil dipenuhi dengan syahwat, tetapi harus besar roja’ (pengharapan). Sebab terkadang datangnya ghaflah dan syahwat, Allah akan mendatangkan kebalikan dari 2 hal tersebut. Yaitu akan menjadikan orang takwa dan ma’rifat, jadi akan terasa lebih besar kenikmatannya. Sehingga akan bertambah rasa cinta dan rasa syukurnya kepada Allah swt.

Oleh sebab itu Allah menciptakan surga itu dipenuhi dengan perkara-perkara yang tidak diinginkan dan dibenci oleh nafsu. Di dunia diberi cape dan ketakutan yaitu supaya terasa nikmatnya setelah masuk ke surga.

Jadi perlu diketahui bahwa sebenar-benarnya kegelapan yang datang ke dalam hati sampai menghalangi ma’rifat kepada Allah, nah itu munculnya dari dunia dan dari nafsu serta setan. Maka siapa saja orang yang tapa dari dunia (yang melupakan Allah swt), serta bisa mengendalikan nafsunya agar banyak ingat kepada Allah, sehingga setan jadi jauh. Maka akan menjadi kekasih Allah, dan akan ke jalan kebahagiaan.

Menurut ulama bahwa Allah itu adalah dzat yang menciptakan semua makhluk yang luar biasa. Ketika membuat hati manusia, Allah swt membuat gudangnya asror, dan macam-macam cahaya serta tempat berfikir yang bersih. Nah Allah swt tidak membuat macam-macam keadaan yang lebih mulya daripada hati. Lalu Allah menyimpan di pintu hati macam-macam perkara yang buruk dan jijik, dan oleh Allah disimpannya pintu hati dunia yang seperti bangkai, dan setan yang diserupakan dengan anjing. Maka siapa saja orang yang ingin masuk ke dalam gudang asror yang ada di hati, dan gudang cahaya serta fikiran yang bagus. Nah orang tersebut harus memejamkan matanya dari perkara-perkara yang buruk, yang jelek, yang jijik yang ada di dalam pintu hati. Sebab tidak ada jalan untuk sampai ke gudang asror kecuali harus melewati macam-macam keburukan. Keburukan itu jangan dilihat, jangan dilakukan, sebab akan jadi penghalang.

Orang-orang yang kehidupan dunianya melupakan ibadah kepada Allah swt, dan meladeni/melayani setan yang dilaknat Allah, maka tidak akan sampai orang tersebut ke jalan asror. Rasulullah saw bersabda: “Dimana-mana Allah akan menjadikan baik kepada ‘abdi-Nya, maka Allah sering menjadikan ‘abdi itu tapa’ dari urusan dunia, maksudnya hati ‘abdi itu tidak melekat ke urusan dunia. Serta oleh Allah diberi rasa senang terhadap urusan akhirat, juga penglihatannya senang memperhatikan aib diri sendiri, sehingga tidak ada waktu untuk melihat aib orang lain.

Dalam sebuah riwayat, Allah swt memberikan wahyu kepada Nabi Musa as: “Siapa saja orang yang mencintai harta maka tidak akan mencintai-Ku, sebab tidak akan berkumpul di hati seseorang cinta kepada-Ku yang agung dengan cinta kepada dunia. Dan juga dimana-mana orang takut oleh makhluk, maka tidak akan takut oleh-Ku yang agung. Serta dimana-mana takut oleh-Ku yang agung, maka tidak akan takut oleh makhluk.”

Allah berfirman: “Orang-orang yang takut oleh Allah swt di dunianya, tidak banyak prihatin dan bingung, begitu juga di akhiratnya”.

Dan juga tidak akan mau tawakal manusia kepada Allah yang agung, kalau orang tersebut takut habis rizkinya. Maka demi keagungan dan kemulyaan Allah swt, tidak semata-mata tawakal seorang ‘abdi kepada Allah yang agung, Allah pasti akan memberikan kecukupan kepada ‘abdinya dari macam-macam kebutuhannya.

Dan tidak ada seorang ‘abdi yang meminta kepada Allah agar dijaga, melainkan pasti oleh Allah akan dimasukkan ke dalam surga. Dan tidak semata-mata orang hanya mengandalkan Allah dan menuruti segala perintah-Nya, maka oleh Allah akan dimasukkan ke dalam surga. Dan akan dicukupkan segala yang dipentingkannya.

Allah juga mengatakan kepada Nabi Musa bahwa Allah sudah mengakhiri Kitab Taurat dengan 5 perkara, yang apabila kelima perkara itu dilaksanakan maka akan bermanfaat bagi dirinya, kelima perkara tersebut adalah:

  1. Harus bukti bahwa hanya mengandalkan rizki dari Allah swt, yang sudah menjadi tanggung jawab Allah bahwa manusia itu akan diberi rizki. Jadi selamanya manusia harus bergantung dan mengandalkan Allah swt.
  2. Jangan takut kepada orang yang memiliki kerajaan (jabatan) selama kerajaan Allah masih ada. Sedangkan kerajaan Allah itu selama-lamanya tidak akan hilang, oleh karena itu selamanya kita jangan takut kepada manusia yang memiliki kerajaan (jabatan).
  3. Jangan melihat aib selain yang ada di diri kita, selagi masih ada aib di diri kita. Sedangkan manusia selamanya tidak akan pernah kosong dari aib, jadi selamanya kita jangan melihat aib orang lain.
  4. Jangan meninggalkan memerangi setan selama kita masih hidup, sebab selama-lamanya setan itu akan memerangi manusia.
  5. Jangan merasa aman dari gonta gantinya kehendak Allah, terkadang Allah itu mendatangkan kejayaan, dan terkadang mendatangkan apes. Dimana kita sedang ada dalam kejayaan, jangan tenang-tenang saja, sampai lupa terhadap pemberian dari Allah. tetapi harus merasa khawatir terhadap hilangnya kejayaan denga rahmat Allah, sehingga kita masuk ke surga.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sembilan puluh)