Cahaya Islam, Iman dan Ihsan

Allah swt itu sering memberikan (menyimpan) cahaya-cahaya ma’ani di dalam hati, yaitu cahaya keyakinan. Awalnya cahaya itu lemah seperti cahaya bintang, yaitu cahaya keislaman. Lalu menjadi kuat sehingga bercahaya seperti bulan, dana terus-terusan bertambah kuat seiring dengan perjalanan tho’at dan dzikir kepada Allah.

Maka cahaya itu lebih terang seperti matahari, yaitu cahaya ihsan. Nah tempat munculnya khaza inal ghuyub yaitu dari cahaya-cahayanya sifat Allah, dan asror nya dzat Allah.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya ahli tasawuf itu sering menertibkan cahaya. Pertama cahaya islam, lalu cahaya iman. Padahal dalam ilmu fiqih bahwa sebenar-benarnya adanya islam itu adalah buahnya dari keimanan.

Maksudnya setelah mengenal Allah terus ada iman yang ditafsirkan dengan tasdiq yang isinya qabul dan iddi’an, yaitu menyatakan bahwa Allah sebagai Pemimpin (Penguasa), serta menyatakan diri menghamba kepada Allah serta menerima terhadap ajaran-Nya, lalu annutqu bissyahadatain, kemudian shalat (dan rukun islam lainnya).

Alasan mengapa ahli tasawuf mendahulukan islam dulu adalah karena ‘abdinya Allah apabila disibukkan dengan peribadahan yang dhohir, itu sering disebut mendiami di maqamul islam. Lalu ketika sudah pindah dengan memperbanyak amal hati, serta disibukkan dengan membersihkan hati, dengan menghiasi, membersihkan dan menghidupkan ikhlas, maka orang itu sering disebut maqamul iman.

Dan kalau pekerjaannya sudah senang dengan manteng/menguatkan/melekatkan hati kepada Allah, serta memperbanyak tafakur, maka berarti sudah mendiami maqamul ihsan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh sembilan)