Amal Yang Dilakukan Harus Ikhlas, Jangan Ada Perasaan Riya dan ‘Ujub

Amal yang mustarak (dicampurkan) tidak akan disukai oleh Allah, seperti tidak disukainya hati orang yang mustarak.

Nah amal yang mustarak itu tidak akan diterima oleh Allah swt, dan hati yang mustarak itu tidak menghadap kepada Allah swt.

Amal yang mustarak itu adalah amal yang dibarengin dengan keuntungan nafsu, baik itu dunia maupun akhirat. Amal mustarak itu adalah amal yang kedatangan tiga perkara, yaitu:

  1. Amal yang kedatangan riya’
  2. Amal yang kedatangan ‘ujub.
  3. Amal yang kedatangan oleh nagih pembalasan.

Yang disebut riya’ adalah amal yang dilakukan ingin terlihat oleh sesama manusia, sering disebut syirkul asghar. Amalnya itu tidak hanya ingin terlihat oleh Allah, tetapi diselipi perasaan ingin terlihat oleh orang lain. Maka di dalam hadist qudsi dijelaskan: “Man ‘amila ‘amalan usrika fiifhi ma’ii ghairii taraktuhu wa syariikuhu”, atau di dalam hadist: “Neraka jahanam itu dinyalakan oleh tiga golongan orang, yaitu orang yang membaca Al Qur’an bukan karena Allah, orang yang jago perang bukan karena Allah, orang kaya yang bershadaqah bukan karena Allah.”

Yang disebut ‘ujub adalah melihat keistimewaan yang ada di diri sendiri, sehingga dia merasa bahwa orang lain ada di bawahnya. Menurut Allah swt: “Falaa tuzakkuu anfusakum huwa a’lamu bimatittaqaa”, menurut sebagian ahli tafsir bahwa dimana-mana kita beribadah, maka jangan menyebut-nyebut pekerjaan (ibadah) tersebut, dan jangan mendhohir-dhohirkan (sengaja diperlihatkan) supaya dilihat oleh orang lain. Sebab Allah swt lebih tahu terhadap orang yang bertakwa kepada-Nya. Jadi walaupun tidak disebut-sebut, tetap saja orang tersebut dihadapan Allah bertakwa. Kecuali apabila mempunyai tujuan supaya perbuatan kita diikuti oleh orang lain.

Kita juga jangan menagih pembalasan (imbalan) atas segala amal yang kita lakukan. Hal ini sangat dicela sekali, karena kalau kita menagih balasan dari Allah, maka Allah juga akan menagih dari kita, karena seharusnya segala amal yang dilakukan harus ikhlas yang sebenar-benarnya. Sudah cukup bagi orang yang beramal dengan mendapatkan keselamatan, selain itu serahkan semuanya kepada Allah swt.

Amal yang dilakukan tetapi tercampur dengan 3 perkara diatas, itu tidak akan diterima oleh Allah.

Hati yang mustarak adalah hati yang kemasukan tiga perkara, yaitu:

  1. Hubbud dunya
  2. Suka terhadap keistimewaan.
  3. Suka terhadap surga.

Nah ketiga hal ini akan mencederai keihlasan yang paling tinggi.

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sembilan puluh lima)