Wiridan Yang Sempurna Akan Mendatangkan Warid (Pemberian Dari Allah) Yang Sempurna Juga

Datangnya pertolongan itu ngitung-ngitung (tergantung) persiapan, dan bersinarnya cahaya-cahaya keyakinan itu ngitung-ngitung (tergantung) bersihnya hati.

Penjelasan : Dalam hikmah yang ini seolah-olah mendatangkan alasan untuk hikmah yang sebelumnya (keseratus sembilan).

Orang yang tergiur dengan warid tapi meninggalkan wirid merupakan orang bodoh, sebab datangnya warid itu tergantung dari adanya wirid. Tegasnya datangnya macam-macam keutamaan dari Allah itu dengan macam-macam persiapannya ‘abdi, dengan membersihkan hati dan melanggengkan wiridannya.

Maka datangnya warid itu menurut atau tergantung wirid. Jadi apabila wiridnya sempurna, tegasnya dibarengan dengan hati yang bersih, maka akan datang warid yang sempurna juga. Dan apabila banyak wiridannya, maka akan banyak juga waridnya.

Siapa saja orang yang banyak membersihkan hatinya dan banyak menghiasi dirinya, maka bakal banyak pertolongannya.

Bersinarnya macam-macam cahaya keyakinan dan kema’rifatan, yaitu yang sering disebut imdad, ini bergantung dari bersihnya hati dari ketergantungannya (melekatnya hati) ke makhluk, dan bergantung ke aghyar. Dan biasanya tidak terbukti bersihnya hati ini, kecuali dengan melanggengkan wiridan.

Kesimpulannya adalah bahwa selama hidup di dunia ini kita harus banyak melakukan wiridan. Hal ini bisa dengan membaca bacaan-bacaan yang mengagungkan Allah swt, melakukan shalat (baik fardhu maupun sunah), dan lain sebagainya. Selain itu wiridan yang kita harus dengan ikhlas dan semata-mata hanya ingin mendapatkan ridha Allah swt.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sepuluh)