Waktu Terbaik Dalam Hidup Menurut Islam

Waktu kita yang terbaik adalah waktu yang bisa membuat diri kita melihat kesulitan yang dihadapi oleh kita (wujudnya kesulitan), serta membalikkan kita atau membuat kita sadar akan kehinaan kita.

Penjelasan :

Sebenar-benarnya waktu yang dipakai inkisar adalah sebaik-baiknya waktu. Waktu yang terbaik adalah waktu yang apabila kita menemui kesulitan, terus dibalikkan terhadap adanya kehinaan diri, sehingga dalam waktu itu kita merasa hina, yang agung hanyalah Allah swt.

Dan kenapa melihat terhadap kesulitan waktu yang paling bagus adalah karena dua hal :

  • Dengan adanya kita melihat kesulitan, ini menyatakan dan memperlihatkan sifat ke ‘abdi an kita, dan memperlihatkan terhadap mengagungkan Allah swt. Nah dalam tingkah seperti ini, ‘abdi nya Allah berada dalam kesempurnaan dan ada dalam kemuliaan.
  • Dengan adanya kesulitan, ini akan menambah pertolongan. Sebab shadaqah itu sering diberikan kepada orang yang fakir dan sedang mempunyai kebutuhan. Maka akan lebih dekat dengan pemberian dari Allah, sehingga dikatakan oleh Allah : “innamaasshodaqaatu lil fuqaraaa i wal masyaakiina, artinya shadaqah itu tetap untuk orang fakir dan yang miskin.”

Apabila kita ingin memiliki perasaan merasa cukup dengan pemberian dari Allah, maka kita harus menyatakan dengan sebenar-benarnya sifat kefakiran kita dan kebutuhan kita.

Allah swt telah mendatangkan pertolongan kepada para muslimin dalam keadaan sulit dan hina. Sehingga dalam al quran dikatakan : “walaqad nashorokumullaahu bibad rin wa antum adzillah, artinya yakin Allah telah mendatangkan pertolongan kepada kalian semua ketika perang badar, sambil keadaan kalian sedang hina dan sulit.”

Allah tidak akan mendatangkan pertolongan ketika manusia merasa dirinya kuat dan ‘ujub dengan jumlah yang banyak. Hal ini pernah terjadi ketika perang hunain, dimana kaum muslimin merasa ‘ujub dengan jumlah yang banyak, sehingga akhirnya Allah tidak memberi pertolongan. Seperti yang difirmankan Allah “harus ingat kalian ketika perang hunain, yaitu ketika merasa ‘ujub kalian semua dengan banyaknya golongan kalian, maka dengan banyaknya itu tidak memperkaya dari kalian semua terhadap suatu perkara, sehingga bumi terasa sempit terus kalian kabur berlarian”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kesembilan puluh tujuh)