Sifat Ahli Ibadah dan Ahli Ma’rifat

Orang yang ahli ibadah akan merasa tegang dan merasa bingung dari segala perkara, disebabkan tidak melihatnya dia ke Allah pada tia-tiap perkara. Apabila dia melihat kepada dzat Allah dalam semua perkara, maka tidak akan merasa bingung dan sulit.

Penjelasan : Sebagian ciri dari orang ‘aqil yang ahli ma’rifat yaitu dengan adanya sempurna penglihatannya dan bagus mata hatinya, maka ketika melihat makhluk mata hatinya dia langsung teringat kepada yang membuatnya (Allah swt). Sehingga terhalang dari melihat makhluk oleh khaliqnya.

Dengan adanya para ahli ma’rifat ketika melihat makhluk langsung ingat kepada yang membuatnya (Allah swt), maka semua perkara yang terlihat oleh ahli ma’rifat itu tidak menjadikan hatinya bingung, sulit ataupun tegang.

Sedangkan golongan ahli ibadah dan ahli tapa’ dari golongan sairiin yang belum sampai ke ma’rifat, mereka sering merasa bingung hatinya dengan adanya melihat makhluk. Sehingga mereka menjauhi dari makhluk. Tegasnya orang ahli ibadah yang sudah merasa suka mengerahkan tenaga dipakai ibadah kepada Allah, malamnya bangun dipakai shalat, siangnya dipakai puasa, tertutup dengan enaknya beribadah, tapi lupa dari enaknya mantengnya (kuatnya) hati kepada yang diibadahan (Allah swt), sehingga terhalang oleh ibadahnya dari Allah.

Begitu juga ahli tapa’, yaitu orang yang sudah tidak suka melekatkan hati ke makhluk, sehingga pada kabur dari dunia, dan merasa enak dan tenang dengan apa yang dilakukannya. Nah ini juga terhalang dari Allah, tegasnya belum memantengkan hati (hatinya belum melekat kuat), sehingga semua perkara yang terlihat menjadikan bingung/sulit. Sebab tidak melihat Allah dari perkara tersebut, tegasnya ketika melihat makhluk mata hatinya tidak tercetus (langsung ingat) kepada Allah swt.

Ahli ma’rifat dengan tercetus (langsung ingat) mata hatinya kepada yang menciptakan/membuat (Allah swt), maka semua perkara tidak membuat dirinya bingung atau kesulitan. Kemudian dirinya ma’rifat kepada Allah dalam semua perkara, dan merasa tenang dengan semua perkara, serta beradab dan mengagungkan kepada semua perkara.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus duabelas)