Setiap Kebaikan (Perkara) Hakikatnya Berasal Dari Allah

Apabila Allah swt akan mendhohirkan  fadholnya serta akan membuat ‘abdinya bahagia, maka Allah akan membuat pekerjaan di ‘abdi-Nya terus diakui oleh ‘abdi tersebut. Firman Allah swt “udkhulul jannata bimaa kuntum ta’maluun, masuklah kalian ke surga dengan amal yang sudah dikerjakan oleh kalian semua.” Nah dalam bahasa yang barusan, Allah membuat senang ahli surga dengan mengakui bahwa pekerjaan amal sholih itu dilakukan oleh ahli surga, padahal pekerjaan ahli surga itu dikehendaki (dimungkinkan terjadi) oleh Allah.

Perlu diketahui bahwa Allah swt telah membagi makhluk ke dalam tiga golongan :

Yang pertama adalah golongan yang ditentukan oleh Allah mendapat siksaan, maka Allah mendhohirkan (memberi tahu ke manusia Allah al muntaqimu, dzat yang menyiksa, dan al qahar). Dan Allah mendatangkan macam-macam kemaksiyatan ke golongan ini beserta hikmah Allah, terus Allah menjadikan kemaksiyatan ini diakui golongan tersebut, dengan keadilan-Nya dan qaharnya Allah.

Kemudian Allah mendirikan hujjah dan mendhohirkan hikmah seperti yang difirmankan oleh-Nya : wamaa rabbuka bidhollaamin lil’abiid wamaa dholamnaa hum walaakin kaanuu anfusahum yadhlimuun, bahwa Allah tidak dholim kepada ‘abdi-Nya, dan Aku yang agung tidak dholim kepada ‘abdi-‘abdi, tetapi yang dholim itu ‘abdi kepada dirinya sendiri.

Yang keduan ada siksaan ‘abdi yang ditentukan oleh Allah untuk mendapatkan hilminya Allah, supaya dhohir nama Allah al haliim dan ar rahiim. Terus Allah mendatangkan rupa-rupa kemaksiyatan dan menghiasi dengan keimanan. Kemudian dengan adanya maksiyat maka nge haq siksaan dan setelah waktu yang telah ditentukan bakal disiksa, tetapi Allah tidak buru-buru dalam menyiksanya, lalu Allah mengampuninya dan akhirnya memasukan ke surga.

Yang ketiga golongan yang ditentukan oleh Allah untuk menerima sifat dermawannya Allah (Maha Penyayang), supaya dhohir mengetahui tentang nama Allah Al Kariim dan Rahman Rahiim. Yaitu Allah membuat ‘abdi tho’at dan ihsan, lalu Allah menghiasi dengan islam dan iman, malah terkadang dijadikan oleh Allah ahli ma’rifat.

Nah dimana-mana Allah akan membuat senang ‘abdi-Nya, maka Allah menentukan terhadap macam-macam warna tho’at, lalu Allah membuat ‘abdi tersebut kuat dalam mengerjakan kebaikan, dan diakui oleh si ‘abdi. Seperti firman Allah “Hai ‘abdi Aku, kalian sudah mengerjakan amal kebaikan, maka Aku akan membalas kalian, masuklah kalian ke surga dengan rahmat-Ku”

Kita harus beradab di hadapan Allah, maksudnya harus hati-hati jangan memiliki perasaan bahwa sifat kemaksiyatan dan kekurangan itu dari Allah. Maksudnya jangan menyebut bahwa Allah sudah menghendaki atau menjadikan ‘abdi melakukan maksiyat, tetapi yang melakukannya adalah diri kita sendiri dan setan yang terkutuk. “Kita jangan tertipu dengan kehidupan dunia, dan juga jangan tertipu dengan setan”

Setiap pekerjaan yang bagus-bagus dan sempurna, maka kita harus mengakui bahwa itu adalah dari Allah swt. Kesopanan kita, maksudnya ucapan lisan kita jangan sampai punya pendapat atau menuduh bahwa pekerjaan yang buruk itu dari Allah.

Maksudnya pekerjaan buruk itu munculnya dari nafsu, sedangkan yang bagus itu pemberian dari Allah. Seperti firman Allah wamaa min khoirin faminallaahi wamaa min syarri famin nafsik.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh)