Mengapa Manusia Tidak Boleh Memiliki Sifat Takabur

‘Abdinya Allah itu tidak boleh memiliki sifat yang hanya pantas dimiliki oleh Allah, yaitu seperti manusia tidak boleh memiliki sifat takabur. Sebab sifat kibriya’ dan sifat ‘udmah tidak pantas adanya di makhluk.

Firman Allah dalam hadist qudsi “Maha Bersih Allah bahwa sebenar-benarnya sifat kibriya’ (takabur) adalah selendang-Ku, dan sifat ‘udmah adalah sarung-Ku. Siapa saja orang yang menyebut Aku dengan salah satunya (selendang atau sarung), maka oleh Aku akan diputus”. Tegasnya bahwa dua sifat tersebut sudah tentu ada di Allah swt baik itu bahasanya maupun isinya. Sehingga apabila ada orang yang memiliki dua sifat ini akan dilaknat oleh Allah swt.

Innallaaha laa yuhibbul mutakabbiriin, bahwa sifat takabur tidak boleh diakui oleh makhluk. Sebab mengakui barang milik orang lain juga (sesama makhluk) itu juga tidak boleh, apalagi mengakui barang Allah.

Dan juga apabila kita mendapatkan kemulyaan dan kesempurnaan dari Allah, maka harus dipelihara (disembunyikan) jangan dibukakan ke orang lain. Allah tidak suka terhadap ‘abdinya yang suka menonjol-nonjolkan keagungan, apalagi seperti yang menyamai Allah dalam keagungannya, dan kekuasaannya.

Sifat Allah itu ada yang pantas dalam bahasanya ada di makhluk, seperti makhluk yang alim itu dipuji oleh Allah, orang muslim yang pintar atau kuat dalam memegang/mendirikan agama. tetapi ilmu yang ada di makhluk itu hanya sekedar sama bahasanya, karena kalau isinya ilmu Allah yang qadim, sedangkan ilmu manusia sangat berbeda.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh tiga)