Mengapa Harus Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Orang yang ghoflah dari tauhid dimana datang pagi-pagi maka melihat apa yang harus dikerjakan. Sedangkan orang yang berakal, yang iman kepada qadha dan qadarnya, dia itu melihat apa yang ditentukan Allah kepada dirinya.

Penjelasan : Disini akan dikemukakan ukuran orang yang iman terhadap qadha dan qadar, serta ma’rifat kepada irodat dan qudrotnya Allah swt.

Orang yang iman kepada qadha dan qadar, serta ma’rifat kepada sifat irodat dan qudrotnya Allah swt, maka ketika waktu pagi-pagi gerak diri setelah diistirahatkan mata hatinya, memperhatikan apa pekerjaan yang bakal diperbuat (dikehendaki) oleh Allah.

Sedangkan orang yang ghoflah, yang lupa dari qadha dan qadarnya Allah swt, sehingga bertumpu kepada kekuatan diri sendiri, dana merasa diri bisa kerja sendiri, maka dia di waktu pagi-pagi sudah memikirkan pekerjaan sendiri apa yang harus dilakukan oleh dirinya sendiri, sehingga tidak ada tawakal kepada Allah, dan bertumpu kedirinya, sehingga dipasrahkan oleh Allah kepada dirinya, yang akhirnya tujuannya tidak terlaksana.

Kita semua harus mempercayai atau iman kepada qadha dan qadar, karena hal ini merupakan salah satu dari rukun iman. Percaya dengan sepenuhnya bahwa segala yang kita lakukan ini telah ditentukan oleh Allah swt. Oleh karena itu kita jangan khawatir tentang segala hal yang berkaitan dengan dunia, misalnya rizki, jodoh, maut dan lain sebagainya, karena itu semua sudah tertulis di lauh mahfudz.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sebelas)