Mengapa Manusia Harus Menjaga Diri Dari Ucapan dan Perbuatan Buruk

Tidak ada yang menemani kita dengan menemani secara haqiqi, kecuali dzat yang menemani kita. Serta tahu akan keaiban kita, maka tidak ada lagi selain Allah swt yang Maha Mulia. Allah lah yang selamanya menemani kita dan tahu akan keaiban kita, dan dengan menemani secara haqiqi.

Setelah kita menyatakan bahwa sebenar-benarnya yang tidak ada yang menemani kita secara haqiqi kecuali Allah swt, maka kita harus menjalankan adab-adaban-Nya dihadapan sahabat yang mulya dalam lahir dan batin kita. Tegasnya kalau kita bertekad bahwa Allah selamanya ngebarengin (menemani) kita, maka kita harus merasa malu kepada Allah, takut dilihat oleh Allah apabila kita melanggar larangan-Nya, atau tidak melaksanakan perintah-Nya.

Kita harus malu kepada Allah dengan sungguh-sungguh, artinya kita harus menjaga diri dari dosa mata, dosa hidung, dosa telinga, dosa bibir/lidah, harus menjaga perut dan isinya (menjaga dari barang yang dimasukan ke dalam perut), menjaga kemaluan, menjaga kedua kaki, ingat terhadap mati, dan lain-lain.

Siapa saja orang yang sudah melakukan hal diatas, berarti benar-benar sudah memiliki malu, dengan malu yang sungguh-sungguh. Dan kenapa kita harus memiliki rasa malu, karena Allah mengetahui segala keaiban kita.

Allah adalah dzat terbaik yang menemani (ngebarengin) ke kita, yaitu yang sering memerintahkan kepada kita semata-mata supaya bahagia. Dan perintahnya sama sekali tidak mengharapkan kemanfaatan bagi Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh dua)