Mengingat Allah Bila Melihat Ciptaan-Nya

Tidak menghalangi kita dalam ingat (eling) kepada Allah wujudnya perkara keadaan yang diciptakan oleh Allah swt. Tapi yang menghalangi kita yaitu dengan membayang-bayangkan perkara yang maujud yang diciptakan oleh Allah.

‘abdinya Allah sebenarnya bisa manteng (menguatkan) hatinya kepada Allah swt, tegasnya segala wujud ‘aridhi tidak harus menjadi penghalang dari mantengnya hati ke Allah. Ketika kita melihat ciptaan Allah, harus terbersit ingat kepada yang menciptakannya (Allah).

Kebanyakan ‘abdinya Allah sampai terhalang oleh ciptaan Allah, nah terhalangnya itu bukan oleh adanya ciptaan Allah, sehingga makhluk Allah tergambar didalam hatinya, yang akhirnya menghalangi hati dari ingat (eling) kepada Allah. Padahal seharusnya makhluk Allah itu (dari keindahan dunia) tidak menjadi penghalang, karena itu adalah wujud ‘aridhi (tadinya tidak ada nantinya juga akan tidak ada lagi).

Kalau dilihat ciptaan Allah, maka harus terbersit kepada yang menciptakannya. Jadi penglihatan kita jangan berhenti dari makhluk Allah, tetapi harus terbersit kepada Allah, yaitu dzat yang menciptakannya. Apabila berhenti penglihatannya dari perkara yang maujud, lalu terbayang didalam hatinya, maka itu pasti akan dapat menghalangi untuk eling (ingat) kepada Allah.

Bagaimana akan bersinarnya hati sedangkan cerminnya hati dipenuhi dengan gambaran-gambaran keindahan dunia, yang menjadi penyebab penghalangnya, sehingga lupa kepada Allah.

Kalau diilustrasikan seperti ini, seseorang naik perahu di dalam sungai, lalu melihat bayangan pepohonan. Dengan melihat bayangan itu, dia akhirnya balik lagi. Karena didalam hatinya berfikir bahwa didepannya ada pepohonan, padahal sebenarnya hanyalah bayangan. Seharusnya perahu itu tidak terhalang oleh bayangan, tapi harus tetap maju. Jangan menganggap bahwa di depan ada pepohonan, karena itu hanyalah bayangan.

Oleh karena itu hati kita harus tetap tidak terhalang, bila melihat keindahan dunia kita harus ingat kepada yang menciptakannya. Kalau tidak seperti itu maka akan sangat membahayakan (menjadikan kita lupa kepada Allah).

Dengan banyaknya orang yang berlomba-lomba memperbanyak harta, sehingga hartanya tergambar di dalam hatinya. Hal tersebut bisa membuat kita lupa kepada Allah, dan lupa kepada kehidupan setelah mati (akhirat).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh empat)