Kita Harus Hati-Hati Dengan Pujian Makhluk, Karena Yang Berhak Dipuji Itu Allah

Orang-orang yang memuji kita, disebabkan oleh sangkaan atau prasangka bahwa kita itu sempurna. Maka kita harus merasa hina atau merasa bahwa diri kita itu buruk, karena kita mengetahui adanya sifat kekurangan yang ada di diri kita.

Disini akan dijelaskan bahwa manusia itu jangan suka dipuji, sehingga para ulama mengatakan bahwa manusia yang suka dipuji itu sudah membukakan jalan masuknya setan kepada dirinya. Pada kenyataannya orang yang suka dipuji itu kacau keadaannya.

Manusia jangan merasa senang apabila dipuji, maka dimana-mana kita dipuji, kalau akan merasa senang yaitu karena Allah sudah memberi dan menghendaki terhadap adanya pujian. Yang mempunyai pujian itu tetaplah Allah swt, kita harus hati-hati jangan sampai kita mengaku-ngaku pujian itu.

Dan apabila dihina kita harus merasa prihatin, karena melihat atau menyadari kesalahan yang dilakukan, yang memerlukan penyelesaian atau diperbaiki. Apabila kita dijelek-jelekan, kita tidak harus bingung dengan jeleknya tersebut, karena manusia itu sudah begitu keadaannya, yaitu lemah dan jelek. Jadi apabila dijelek-jelekan juga pantas, tidak harus bingung.

Sebenar-benarnya kalau orang lain memuji kita, itu dikarenakan mereka mempunyai pemikiran bahwa kita itu memiliki sifat baik. Oleh karena itu, bagi kita yang mengetahui keadaan sebenarnya (yang serba kekurangan dan kesalahan), maka kita harus nyacad (menghina) diri kita sendiri. Jangan memuji diri sendiri, karena pantas saja mereka memuji karena tidak tahu diri kita sebenarnya (haqiqatnya).

Kita harus berkata kepada nafsu: “Wahai nafsu, engkau sudah dipuji oleh orang lain. Mereka memujimu karena berprasangka bahwa engkau sempurna. Maka bagiku yang mengetahui kedudukanmu yang serba kekurangan dan banyak dosa, maka aku tidak akan memujimu. Tapi aku akan menasihatimu, engkau jangan teledor/gegabah dalam menghadap Allah. Malah harus tambah-tambah khusyu’, tambah-tambah tho’at, harus ditingkatkan olehmu tiap-tiap sifat baik, dan jangan sampai senang atau bahagia apabila ada yang memuji.

Menurut riwayat, jaman dulu para sahabat apabila ada yang memuji, mereka marah kemudian berdoa: Allaahummaj’alnaa khairan mimmaa yadhunnuuna walaa tu aa khidznaa bimaa yaquuluuna waghfirlanaa maa laa ya’maluun. Semoga Allah menjadikan kami semua kepada kebaikan dari sangkaan orang-orang, serta semoga Allah tidak menyiksa  kami semua disebabkan ucapannya orang-orang, dan semoga Allah mengampuni kami semua terhadap dosa-dosa yang orang lain tidak mengetahuinya.

Kenapa para sahabat berdoa demikian, karena dari sangkaan-sangkaan orang sering timbul kejadian buruk. Menurut Imam Ghazali, orang ahli ma’rifat dari golongan sahabat tidak suka dipuji karena takut merasa senang dan bahagia dengan pujian dari makhluk, sedangkan orang yang dipuji-puji sambil senang dengan pujian tersebut tidak disukai Allah.

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh sembilan)