Jangan ‘Ujub dan Takabur Kalau Bisa Melakukan Tho’at

Orang yang bisa tho’at kepada Allah itu harus lebih butuh terhadap hilminya Allah, maksudnya kalau kita bisa tho’at harus merasa takut terhadap siksaan Allah daripada butuhnya kita terhadap hilminya Allah ketika ma’siyat. Artinya ketika kita ma’siyat, kita  harus butuh terhadap hilminya Allah. Sehingga merasa khawatir, merasa takut, merasa hina dan inkisar hati.

Tapi kalau kita bisa tho’at, maka harus sangat butuh terhadap hilminya Allah. Kenapa demikian, karena sifatnya diri kita kalau bisa tho’at biasanya akan merasa sombong, merasa diri baik, dan merasa lebih baik daripada orang lain, malah sering ‘ujub dan takabur, menganggap rendah orang lain, dan merasa diri nge haq atas pembalasan dari Allah (merasa diri dimanja oleh Allah), yang akhirnya membuat kita tidak sopan di hadapan Allah. Nah sifat-sifat hati yang barusan adalah dosa-dosa hati yang paling besar.

Dikhawatirkan dari tho’at menjadi ma’siyat. Padahal dimana-mana kita bisa tho’at harus merasa bahagia dan syukuran ke Allah bahwa kita diberi hadiah bisa tho’at Allah. Nah sekarang kita ‘ujub bisa tho’at, sehingga dipuji, merasa dimanja yang akhirnya tidak sopan atau kurang ajar kepada Allah. Hal ini mendekatkan kita kepada tidak sukanya atau bencinya Allah.

Oleh karena itu dimana-mana kita bisa tho’at harus khawatir mendapat siksa dari Allah, karena sering kedatangan hati yang buruk. Sedangkan orang yang ma’siyat biasanya dipenuhi dengan ketakutan, sebab sudah ma’siyat sehingga dirinya merasa hina. Maka butuhnya terhadap hilmi nya Allah sambil dalam keadaan inkisar hati, itu dibawah butuhnya terhadap hilminya Allah ketika ‘ujub karena bisa beramal.

Kesimpulannya adalah kalau kita bisa beramal kita harus khawatir takut tidak diterima karena belum bisa menghadap dengan sebenarnya dan karena masih gegabah. Dan harus bahagia bahwa diri dijadikan oleh Allah bisa tho’at (mendapat hadiah dari Allah). Apabila kita bisa beramal kita harus menjaga diri agar jangan ‘ujub. Karena walaupun manusia terus-terusan beribadah pasti saja ada kesalahan. Kalau keadilan Allah ditegakkan, maka pasti mendapat siksaan.

Walaupun  kita terus-terusan ibadah, tetap saja harus merasa khawatir  dan harus lebih butuh terhadap Allah, sehingga dalam sebuah hadist diterangkan bahwa “sebenar-benarnya Allah itu memberi wahyu ke seorang nabi dari sebagiannya nabi-nabi.”

Orang yang tho’at kepada Allah harus hati-hati jangan sampai ‘ujub dan takabur atau merasa diri sudah baik, sebab apabila keadilan Allah ditegakkan maka orang tersebut akan disiksa. Begitu juga sebaliknya bagi orang yang selalu melakukan ma’siyat, jangan sampai putus harapan dari rahmat Allah karena merasa dirinya banyak dosa. Karena Allah akan mengampuninya apabila orang tersebut benar-benar bertaubat, walupun dosanya sebanyak buih di lautan.

Menurut Abu Yazid taubat dari dosa itu cukup sekali, sedangkan taubat dari bisa tho’at itu harus seribu kali.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh sembilan)