Larangan Untuk Berprasangka Buruk Kepada Allah

Terkadang Allah memberi kepada kita dan mencegah dari yang lainnya. Dan terkadang juga Allah mencegah/menghalangi dan memberi dari yang lainnya.

Perlu diketahui bahwa biasanya nafsu amarah dan nafsu lawwamah itu sering merasa cukup dengan diberi, dan merasa repot (bingung) apabila dihalangi. Sebab dengan adanya pemberian itu adalah kebahagiaan nafsu dan syahwatnya. Sedangkan dihalangin dari keinginan itu tidak ada keuntungannya, dan tidak terlaksana apa yang diinginkannya, sehingga akhirnya bingung.

Merasa senang dengan diberi dan merasa bingung apabila dihalangin, itu muncul dari bodohnya nafsu terhadap Allah dan disebabkan ketidakpahamannya. Apabila paham terhadap segala ketentuan Allah, pasti tidak akan bingung dan tidak akan senang, sebab terkadang pencegahan-Nya semata-mata memberi, dan kadang-kadang juga pemberian-Nya semata-mata pencegahan.

Oleh karena itu kita harus paham tentang segala yang dipastikan oleh Allah, serta jangan berburuk sangka, sebab terkadang Allah memberikan kepada kita sesuatu yang diinginkan hawa nafsu, lalu Allah menghalangi dari bisa menghadap ke dzat Allah. Dan terkadang kita dihalangin, tidak diberi perkara yang diinginkan oleh nafsu kita, terus Allah  membuat kita bisa menghadap Allah. Kadang juga kita diberi keindahan dunia, terus dihalangin dari jalan keselamatan akhirat.

Bahkan terkadang juga Allah bisa membuat orang-orang disekeliling kita menghadap (menghormati) kita, terus Allah menghalangi kita dari menghadap kepada-Nya. Begitu juga sebaliknya Allah menghalangi orang-orang menghadap (menghargai) kita, tapi Allah memberikan ke kita hati yang tenteram dan merasa didukung oleh-Nya.

Allah juga kadang-kadang memberikan ilmu dan terbukanya gudang pemahaman, tetapi dihalangin oleh Allah dari melihat perkara yang ma’lum dan ma’rifat terhadap dzat hayyul qoyyum.

Dan sebaliknya Allah menghalangi dari kita banyak ilmu, terus Allah memberikan rasa tenteram dan berpegangan kepada tali Allah, sehingga kita bisa melihat yang samar dan yang ma’lum.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedelapan puluh tiga)