Allah Sering Menutupi Keistimewaan Yang Ada Di Para Wali

Maha bersih dzat Allah yang sering menutupi rahasianya keistimewaan ‘abdi-Nya, yang dicintai dengan mendhohirkan sifat kemanusiaan, dan Allah sering mendhohirkan terhadap sifat keagungan-Nya dalam keadaan abdi-Nya tersebut mendhohirkan sifat ke’abdiannya.

Penjelasan : Sebenar-benarnya dari sebagiannya welas asihnya Allah adalah sering menutupi keistimewaan yang diberikan kepada para wali, yaitu sering menutupinya Allah terhadap cahaya yang dipancarkan oleh Allah dalam hatinya kekasih Allah, yang sering mendekatkan diri ke Allah, setelah membersihkan hatinya dari berbagai macam kotoran dan dosa. Sehingga tenggelam dalam lautan musahadah yang dicintainya, dirinya tidak melihat ada daya dan upaya didirinya melainkan atas kehendak Allah.

Begitu juga ditimpakan didalam hatinya perkara yang diliputi dengan cahaya, yaitu macam-macam sifat keistimewaan yang luhur, sifat keagungan dan kekuatan, kemulyaan, dan kekuasaan yang sempurna. Nah sifat-sifat ini oleh Allah swt ditutupin, yaitu dengan mendhohirkan sifat-sifat ke’abdian, seperti sifat fakirnya dan sifat lemahnya. Serta tidak ada kekuasaannya dan dengan macam-macam sifat yang sering lazim di manusia, seperti makan, minum, nikah dan tidur.

Kenapa keistimewaan ini sering ditutupin oleh Allah swt, sebab bahayanya besar, dan keistimewaan ini sering disamakan dengan permata yang mahal, dan simpanan barang antik. Maka hal tersebut seharusnya disembunyikan, jangan diperlihatkan.

Menurut Ibnu Abbas al marisi, apabila dibukakan cahaya wali, maka akan beribadah manusia kepada wali tersebut.

Dengan ditutupinya keistimewaan yang ada di para wali, itu termasuk kebaikan Allah terhadap wali. Tapi terkadang keistimewaan ini didhohirkan oleh Allah kepada para wali, sehingga mendatangkan dari wali tersebut terhadap amrun khowariq lil’adat yang jadi karomah, tetapi hal ini tidak langgeng, karena oleh Allah dicabut lagi, sehingga wali tersebut biasa lagi (tertutup).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima)