Bertaubat kepada Allah dan larangan berputus asa

Sebenar-benarnya orang yang ma’rifat ke Allah, tegasnya yang melihat rohmatnya Allah, maka jadi kecil dosanya dihadapan kemurahan Allah, sebab sebesar-besarnya dosa itu ada dibawah rohmatnya Allah.

Penjelasan : dalam hikmah ini menjadi ‘ilat dari hikmah yang kelima puluh, tegasnya menghitung-hitung banyaknya dosa yang mengakibatkan putus asa merupakan kelakuan orang bodoh, sehingga dosanya jadi bertambah-tambah.

Sebab orang ahli ma’rifat, tegasnya orang yang benar-benar tahu Maha Murahnya Allah swt, maka dosa itu jadi kecil dihadapan sifat murahnya Allah. Maka kalau jadi kecil, jangan sampai menjadikan putus asa. Ahli ma’rifat tidak putus asa apabila melakukan dosa, karena dia kemudian bertaubat serta yakin akan Maha Murahnya Allah swt.

Sedangkan menghitung besar dosa yang sudah dilakukan, yang mendorong terhadap taubat serta menghentikan perbuatan dosa, sehingga ‘azam tidak akan kembali lagi (melakukan lagi), maka hal tersebut dipuji oleh syara’ dan jadi ciri terhadap imannya orang itu.

Sehingga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud “sebenarnya orang mu’min yang melihat dosanya seperti dirinya ditutupin gunung yang dikhawatirkan menimpa dirinya, sedangkan sebaliknya yang bukan mu’min melihat dosanya seperti hinggapnya laron di hidungnya”

Dengan demikian apabila kita terlanjur melakukan dosa, kita harus menyesal telah melakukannya serta berniat tidak akan melakukan dosa lagi di kemudian hari. Kita juga harus memohon ampun kepada Allah swt, dan yakin akan Maha Murahnya Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kelima puluh satu)