Introspeksi Diri Dari Sifat dan Akhlak Buruk

Kita mengoreksi perkara keaiban yang samar di diri kita itu lebih baik daripada kita mengoreksi terhadap perkara yang samar-samar di diri kita dari hal-hal yang ghoib.

Penjelasan : bahwa sebenar-benarnya tahallii membersihkan diri itu lebih bagus daripada menghiasi diri. Jalannya takhollii lebih bagus daripada tahallii, yaitu kita mengoreksi terhadap yang samar yang ada di diri kita, dari macam-macam aib. Seperti barangkali ada sifat riya di dalam hati, akhlaq yang jelek, atau senang dipuji.

Nah hal diatas lebih baik daripada kita mengoreksi terhadap hal ghoib di diri kita. Seperti mengoreksi qodar Allah yang samar, atau mengoreksi macam-macam halusnya ‘ibaarot dan macam-macam ‘ilmu laduni, serta keistimewaan ‘alam. Sebab mengoreksi hal demikian berkaitan dengan keuntungan diri kita, artinya kita ingin karomah, ingin ilmu laduni. Hal ini tidak ada kaitannya dengan kepentingan Allah swt.

Mengoreksi diri agar jujur dan bersih di hadapan Allah swt, itu diperintahkan oleh Allah swt. Sehingga para ‘ulama berpendapat bahwa kita harus bukti jadi orang yang mencari kejujuran, dan kita jangan mencari keistimewaan, sebab diri kita mempunyai keiginan lalu mencari karomah, sedangkan Allah memerintahkan untuk jujur. Sedangkan yang berkaitan dengan haq Allah, tegasnya yang diinginkan oleh Allah itu lebih utama daripada yang diinginkan oleh kita.

Aib yang ada di diri manusia itu ada 3 :

  1. Aib nafsu, yaitu melekatnya terhadap syahwat jasmani seperti suka terhadap makanan, minuman, pakaian, kendaraan, rumah, pernikahan.
  2. Aib hati, seperti suka terhadap pangkat, kepemimpinan, keagungan, takabur, hasud, dll.
  3. Aib ruh, yaitu melekatnya terhadap keuntungan batiniah, seperti mencari karomah, kepangkatan, ingin bidadari dll, sehingga rindu dan semangat ingin yang disebutkan tadi. Padahal itu akan cacad (rusak) dalam sifat ke ‘abdi an kita serta menghalangi dari melaksanakan kedudukan Allah.

Maka memperhatikan diri dari keaiban nafsu, hati, ruh dan kebersihannya lebih utama daripada mengoreksi perkara ghoib.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah ketiga puluh dua )