Mengapa Allah Memberikan Ilmu Kepada Manusia Sedikit

Allah memberikan ilmu kepada manusia didunia ini sangat sedikit. Siapa saja orang yang terlihat oleh kita tingkahnya sering menjawab setiap perkara yang ditanyakan, dan membiasakan dari tiap-tiap perkara yang terlihat dengan mata hatinya, serta sering menceritakan terhadap setiap perkara yang diketahui. Maka kita harus menjadikan dalil dengan menjawabnya, dan seterusnya terhadap kebodohan yang ada di orang itu.

Penjelasan : Sebenarnya orang yang sanggup menjawab setiap pertanyaan maka itu timbul dari kebodohannya, tidak tahu terhadap keadaan diri yang sebenarnya, yaitu dari sedikitnya ‘ilmu yang diberikan oleh Allah swt. Firman Allah swt : “tidak diberi kalian semua ilmu melainkan sedikit”

Apabila kita tahu bahwa kita diberi ilmu sedikit, maka bagaimana bisa menjawab segala pertanyaan. Dan lagi dengan sanggup menjawab, itu akan merepotkan diri sendiri, kan sudah dipastikan kita diberi ilmu sedikit. Tetapi kita tetap menjawab setiap pertanyaan, akhirnya jawaban kita asal-asalan. Nah itu adalah tingkahnya orang bodoh kepada Allah, sebab kalau tahu akan dirinya yang sebenarnya akan dipasrahkan kepada Allah swt dengan lafad Wallahu a’lam.

Perkara yang dilihat dari macam-macam karomah, perkara yang dihasilkan dari kepangkatan, dan perkara yang kerasa dari nur dan asror. Nah yang barusan disebut adalah macam-macam rahasia batin dan rahasia Allah. Sehingga tidak akan mengerti kecuali ahlinya. Dengan diceritakan dan dibahasakan kepada orang yang belum mengerti dan ke orang yang belum punya perasaan.

Rahasia Allah dan amanah-Nya oleh kita tidak boleh dikesampingkan, karena apabila kita berbuat demikian, maka kita telah berlaku khianat. Misalnya ada orang yang beranggapan atau mengaku bahwa dirinya telah ma’rifat, atau dirinya telah berada dalam tingkatan haqqul yaqin, mengaku dirinya wali. Orang yang seperti itu adalah tukang membongkar (menelanjangi) rahasia-rahasia, oleh karena itu jadi turun martabatnya.

Bodohnya orang yang sering ikut kepada tiap-tiap perkara yang diketahui dari macam-macam haqiqat dan ‘ilmu laduni, serta kema’rifatan, itu orang bodoh dari kepangkatan diri. Sebab kalau seseorang terbukti memiliki pangkat yang tinggi  dan agung, maka tidak akan berani menceritakannya. Sama saja dengan seseorang yang memiliki gudang emas, dia tidak akan berani menceritakannya kepada orang lain, sebab nantinya akan diketahui pencuri.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah ketujuh puluh)