Inilah Kunci Menuju Ma’rifat Kepada Allah

Kita harus menjauhi dari tingkah yang merusak ma’rifat, yaitu dimana-mana Allah membukakan kepada kita salah satu bagian dari ma’rifat. Seperti kita ma’rifat kepada Allah dengan perjalanan rasa bahwa Allah swt hadir, yang melihat tingkah kita, atau kita ma’rifat bahwa diri kita sedang digerakkan oleh Allah, yaitu yang disebut tajallil ap’al.

Maka kita jangan menoleh dari sedikitnya amal, sebab yang dimaksud dengan banyak amal yaitu akan mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan kalau kita dibukakan oleh Allah berarti kita langsung didekatkan oleh Allah. Maka dimana-mana Allah membukakan satu bagian dari ma’rifat, itu harus tambah-tambah syukur, tegasnya mempertahankan ma’rifat dan tambah-tambah beradab, sebab sedikitnya amal sambil ma’rifat itu lebih besar ganjarannya daripada banyak amal tapi tidak ma’rifat.

Terkadang terbukti sedikitnya amal dengan datangnya sakit. Maka dimana-mana datang ma’rifat ketika sakit, punya pendirian bahwa sebenar-benarnya datangnya sakit itu lebih baik daripada sehat. Sebab di waktu sakit itu sedang dicintai oleh Allah, dileburnya dosa, menaikkan martabat, dan sakit ini merupakan pilihan Allah dan kekuasaan-Nya.

Maka ketika sedang ma’rifat seperti itu, jangan berfikiran kesana kemari tentang sedikitnya amal, sebab tidak semata-mata Allah mendatangkan ma’rifat kecuali akan diperlihatkan fadhol nya Allah, dan Allah akan memperlihatkan kepada kita serta membukakan kepada kita dengan sifat-Nya dan asma-Nya , maka itu lebih besar daripada banyaknya yang dhohir.

Allah berfirman dalam hadist qudsi “dimana-mana Aku mendatangkan bencana/cobaan kepada seorang ‘abdi, terus si ‘abdi tidak melaporkan (memberitahu cobaannya kepada orang lain yang menengok), maka Aku akan melepaskan cobaan ‘abdi itu, dan Aku akan mengganti (dagingnya) dengan yang lebih baik, darahnya yang lebih bagus, terus bisa beramal seperti biasa.”

Dari hadist di atas menunjukan ma’rifatnya orang yang pasrah terhadap kepastian Allah, sambil sabar dan syukur.

Sebaliknya orang yang sering mengeluh, ngasih tahu kepada orang lain cobaannya, serta mengeluarkan bahasa yang tidak sopan kepada Allah, maka tali cobaannya itu tidak akan dilepas oleh Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukand (Hikmah kedelapan)