Kita Jangan Senang Dengan Bisa Melakukan Tho’at

Kita jangan senang dengan bisanya melakukan tho’at, sebab tho’at itu muncul dari diri kita. Tetapi kita harus senang dengan tho’at sebab tho’at itu dari Allah yang diberikan kepada kita.

Allah berfirman qul bifadlillaahi wabirohmatihii……….

Yang artinya dan harus mengucapkan kalian dengan fadhol nya Allah dan dengan rohmat-Nya.

Maka terhadap fadholnya Allah, orang-orang harus senang. Fadholnya Allah lebih bagus daripada perkara yang dikumpulkan oleh orang-orang.

Penjelasan : tingkahnya orang mu’min ketika senang dengan tho’at. Bahagia atau senang dengan tho’at itu sifatnya orang mu’min, seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad man sarrothu hasanatuhu wasaathu sayyiatuhu fahuwa mu’min, siapa saja orang yang merasa senang kalau melakukan tho’at dan merasa prihatin dengan adanya ma’siyat, maka itu orang mu’min.

Orang mu’min yang merasa senang apabila melakukan tho’at terbagi 3 tingkatan :

  1. Yaitu yang senang dengan tho’at, karena perkara yang diharap-harapkan dari ganjarannya tho’at. Tegasnya senang karena akan mendapatkan ganjaran dari Allah. Golongan ini melihat datangnya tho’at dari dirinya bagi kepentingan dirinya. Sehingga merasa bahwa tho’at nya hasil cape dirinya sendiri. Golongan ini seperti firman Allah iyya kana’budu.
  2. Golongan orang yang senang sebab bisa tho’at. Sebenarnya tho’at itu jadi ciri ridhonya Allah, jadi sebab dekatnya dirinya dengan Allah, dan sampainya ke hadhrot Allah. Terus tho’at itu merupakan hadiah dari Allah, dan bisa menjadi sarana untuk dekat kepada Allah. Golongan ini tidak melihat jasa kerja dirinya, serta merasa tidak punya daya dan upaya apa-apa, yang dikerjakan tho’at itu merupakan ketentuan dan kekuasaan Allah. Maka jauh dari rasa ‘ujub dan takabur. Nah golongan ini seperti yang difirmankan Allah iyyakanasta’iin. Golongan pertama ibadahnya lillaahi, sedangkan golongan kedua billaah, nah keduanya sangat jauh berbeda.
  3. Golongan orang yang senangnya karena/dengan Allah, bukan oleh perkara selain Allah. Maksudnya bukan karena berharap ganjaran atau diberi ciri keridhoan. Dirinya tidak daya dan upaya, hatinya manteng (asyik) kepada Allah, memperhatikan taqdir dirinya. Apabila melaksanaka tho’at itu adalah karunia Allah, apabila melakukan ma’siyat tersedu-sedu kepada Allah, tidak mengurangi bahagianya apabila melakukan kesalahan, tidak nambah senangnya dengan melaksanakan tho’at, sebab merasa dirinya dengan pertolongan Allah. Nah golongan ini adalah golongan ahli ma’rifat kepada Allah.

Oleh karena itu apabila kita bisa melaksanakan tho’at, hati-hati jangan sampai senang disebabkan tho’at itu muncul dari kita sendiri, sebab mengakibatkan datangnya sifat ‘ujub dan riya serta takabur, sehingga mengakibatkan rusaknya ganjaran.

Tetapi kita harus senang bahwa sebenarnya tho’at itu merupakan hadiah bagi kita yang menunjukan sebenarnya kita ada di fadhol nya Allah swt dan kiromnya Allah. Maka senangnya/bahagianya itu bifadlillaahi wabirohmatihi seperti firman Allah qul bifadlillaahi wabirohmatihi.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kelima puluh delapan)