Janganlah Ragu Terhadap Janji Allah

Dengan tidak terbuktinya janji Allah, jangan membuat kita was was terhadap benarnya perjanjian Allah, tetapi harus punya keyakinan bahwa sebenar-benarnya Allah akan melaksanakan janjinya pada waktu yang lebih maslahat.

Sebab terkadang perjanjian Allah datangnya dijalankan kepada macam-macam sebab dan syarat yang dipilih Allah, yang terlihat oleh Allah tapi tidak terlihat oleh manusia. Maka sudah seharusnya adab kepada Allah dan tenang terhadap perkara yang sudah dijanjikan Allah. Jangan was was kepada janji Allah, dan jangan goncang dalam tekad.

Siapa saja orang yang mempunyai sifat ini, tegasnya beradab serta dibarengin dengan tenangnya hati, ketika tidak terbukti apa yang dijanjikan, maka orang itu sudah ma’rifat kepada Allah serta selamat mata hatinya. Sebaliknya orang yang mang mang (was was) terhadap janjinya Allah, maka dengan was was nya itu menjadikan cacad mata hatinya.

Yang dimaksud janjinya Allah yaitu seperti janji yang datang kepada wali-walinya Allah dengan perjalanan ilham, atau yang datang kepada para nabi dengan jalan wahyu. Seperti Allah swt menjanjikan kepada Rasulullah Muhammad saw tentang akan terbukanya negara Mekah, ketika nabi Muhammad hendak berangkat ke negara Mekah bersama 1400 sahabat. Kemudian nabi Muhammad berkata kepada para sahabat bahwa beliau bakal sampai ke Mekah ‘umroh, serta Mekah akan menyerah dan masuk ke agama islam.

Setelah berangkat nabi Muhammad, lalu sampai di tanah Hudaibah dihalangi oleh orang kafir, tidak boleh berangkat ke Mekah pada tahun itu, sehingga Nabi Muhammad kembali lagi ke Madinah.

Nah, Nabi Muhammad adalah orang yang ma’rifat kepada Allah , pasrah dan tidak merasa was was, maka oleh Allah dilaksanakannya (diijabahnya) terbukanya kota Mekah dan ‘umrohnya nabi Muhammad pada tahun berikutnya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah ketujuh)