Jangan Ridho Terhadap Hawa Nafsu

Pokoknya tiap-tiap ma’siyat, goflah dan syahwat yaitu ridho terhadap nafsu. Pokoknya hal-hal (tiap-tiap) tho’at dan bersegera ketika beribadah, serta menjaga diri, yaitu tidak ridho terhadap nafsu.

Penjelasan : adanya keaiban itu menetapnya di diri manusia, itu dari adanya goflah (dari mengoreksinya). Adanya goflah (pekerjaan yang tidak bermanfaat) yaitu dari adanya ridho terhadap nafsu, sebab kalau tidak ridho terhadap nafsu pasti ngoreksi terhadap kejelekannya terus dikeluarkan kemudian bersih-bersih (membersihkan diri).

Pokoknya ma’siyat yaitu mengerjakan perkara yang dilarang oleh Allah, dan goflah dari Allah, serta syahwat yang tadi (ridho terhadap nafsu). Sebab tiap-tiap orang yang ridho terhadap nafsu maka dia akan meluluskan segala tingkahnya serta akan menutupin kejelekannya (kejelekan sering dilakukannya). Tegasnya kalau penglihatan yang ridho (terhadap nafsu), itu samar dari macam-macam keaiban.

Pokoknya hal-hal (tiap-tiap) tho’at dan bersegera ketika beribadah serta menjaga diri, itu dengan tidak adanya ridho terhadap nafsu. Sebab kalau kita tidak ridho terhadap nafsu lalu melihat dengan penglihatan yang tidak suka, sambil dibarengin dengan buruk sangka dan penuh dengan keragu-raguan, maka akan berfikir dari keaiban nafsu, serta bisa mengeluarkan dari keaibannya. Tegasnya kalau penglihatan tidak suka/benci, itu akan terlihat dengan jelas kepada macam-macam kesalahan.

Maka bagi orang yang sedang menggapai titel mulya, harus bisa ngoreksi dirinya, dan harus hati-hati terhadap keinginan hawa nafsu dirinya. Kita jangan membagus-baguskan suatu perkara keinginan hawa nafsu, sebab kalau kita ridho sambil membagagus-baguskan, maka akan menggigit nafsu ini dengan tidak diketahui, serta akan terhalang kita dari hadrot Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah ketiga puluh lima )