Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya

Kita harus melihat dengan penglihatan hati terhadap sabda Rasulullah Muhammad saw “orang yang terbukti hijrahnya kepada Allah swt dan ke Rasulnya, maka itu hijrahnya ke Allah dan rasulnya. Dan siapa saja orang yang hijrahnya ke dunia yang dihasilkannya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya orang itu terhadap perkara yang dihijrahinya”

Kita harus paham terhadap sabda nabi “dan harus pikir-pikir kalian terhadap urusan ini, kalau kalian mempunyai faham”

Penjelasan : dalam hikmah ini diterangkan satu hadist yang menguatkan hikmah keempat puluh dua, yaitu orang yang hijrah/orang yang meninggalkan kampung halamannya dengan tujuan ingin diridhoi oleh Allah swt dan rasulnya. Maka hijrah ke Allah dan rasulnya itu termasuk ke dalam golongan minal akwani ilal mukawwin.

Sedangkan orang yang hijrah yang meninggalkan kampung halamannya karena ada tujuan dunia yang akan dihasilkan, atau tujuan wanita yang akan dinikahi, maka itu termasuk ke dalam golongan min kaunin ilaa kaunin. Hijrah itu meninggalkan tempat yang selama ini ditinggali ke tempat lainnya, dan ada 3 macam :

  1. Pindah dari tempat ma’siyat ke tempat tho’at.
  2. Dari tempat ghoflah menuju ke tempat yang semangat beribadah.
  3. Pindah dari ‘alam hisi ke ‘alam ma’nawi.

Nah orang-orang yang hijrahnya ingin sampai ke Allah dan rasulnya, maka akan sampai menuju ma’rifat ke Allah dan rasulnya. Dan sebaliknya, orang yang hijrah demi keuntungan dirinya dan hawa nafsunya, maka dia rugi tujuan dan keberangkatannya.

Kita harus ingat sabda Rasulullah  ilaa maa hajaro ilaihi, serta dijadikan bahan untuk mengoreksi hati, barangkali ada tujuan-tujuan diluar Allah, maka segeralah dibuang kemudian diganti.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah keempat puluh tiga)