Dalil-Dalil Tidak Adanya Penghalang Antara Allah Dengan Makhluk

Bagaimana akan dimengerti oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara yang baru, sedangkan Allah adalah yang men dhohir kan semua perkara.

Bagaimana akan dimengerti oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan Allah itu adalah dzat yang dhohir dengan adanya semua perkara.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan Allah itu yang dhohir di semua perkara.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan Allah dzat yang dhohir bagi semua perkara.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan Allah itu yang dhohir di sebelum perkara.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan Allah itu yang dhohir dari tiap-tiap perkara.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan Allah itu dzat yang maha tunggal, yang tidak ada 1 perkara yang menemani Allah.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, padahal Allah lebih dekat dengan kita daripada semua perkara.

Bagaimana bisa dimengertinya oleh akal Allah swt terhalang oleh suatu perkara, sedangkan kalau tidak ada Allah maka tidak akan dhohir wujudnya semua perkara. Duh aneh, bagaimana bisa dhohir wujud dalam ketiadaan.

Semua hal diatas adalah dalil yang menunjukkan tidak adanya hijab , artinya tidak penghalang antara Allah dengan makhluk. Kenapa diadakan dalil karena tidak adanya hijab sangat samar bagi orang yang goflah (pengangguran/pekerjaan yang tidak bermanfaat). Tegasnya tidak ada satu perkara diluar Allah yang menghalangi antara Allah dengan makhluk. Akal tidak mengerti terhalangnya Allah dari makhluk, sebab Allah yang mengadakannya, dan Allah dhohir dalam tiap-tiap perkara sehingga bisa menetapkan adanya Allah dengan adanya makhluk karena Allah yang mengadakannya.

Allah dhohirnya semua perkara, sebab tiap-tiap yang terlihat maka sekaligus terlihat yang menciptakannya.

Allah swt yang dhohir ke semua perkara, sehingga semua perkara mengenal adanya Allah dengan lisan, “wain min saein illaa wayusabbihu wabihamdihi, tidak ada suatu perkara kecuali netapkan terhadap bersihnya dzat Allah dan maha sucinya Allah”

Allah yang dhohir sebelum wujudnya perkara , tegasnya sebelum wujudnya semua perkara. Ilmunya Allah sudah tahu terhadap semua perkara dan ditetapkan dengan sifat irodat serta sifat qudrot yang mengadakannya.

Allah swt yang men dhohir kan dari tiap-tiap perkara, sebab tidak ada wujud haqiqi selain wujudnya Allah. ‘alam wujudnya ‘aridi, wujudnya baru sehingga menjadi dalil adanya Allah dari semua ciptaan-Nya.

Allah dzat yang maha satu, tidak ada yang menemami baik itu dari sifat atau af’al nya.

 

 Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah keenam belas)