Bersahabat Dengan Orang Bodoh Dan Tidak Ridho Terhadap Hawa Nafsu Itu Lebih Baik Daripada Bersahabat Dengan Orang Pintar Tapi Ridho Terhadap Hawa Nafsunya.

Yakinlah bahwa bersahabat dengan orang bodoh dan tidak ridho terhadap hawa nafsu itu lebih baik daripada bersahabat dengan orang pintar tapi ridho terhadap hawa nafsunya.

Penjelasan : jalannya bersih-bersih dari ridho terhadap hawa nafsu yaitu harus bersahabat dengan orang yang tidak ridho terhadap nafsunya walaupun orang bodoh.

Bercampur atau bersahabat dengan orang yang tidak ridho terhadap nafsunya itu lebih baik daripada bersahabat dengan orang pintar tapi ridho terhadap nafsunya. Sebab bersahabat dengan orang yang tidak ridho terhadap nafsunya, itu tulen (asli) bagusnya, sebab nyata dengan ikhlasnya, nanti akan tertular ikhlasnya lantaran persahabatan, sehingga dapat menghiasi diri dengan ikhlas, maka bakal jadi golongan yang utama.

Sedangkan bersahabat dengan orang yang ridho terhadap hawa nafsunya itu tulen jeleknya, walaupun keadaannya paling pintar sedunia. Sebab dengan bersahabatnya akan menular kejelekannya. Orang bodoh yang dekat dengan Allah lebih baik dibandingkan dengan ilmu yang menjauhkan dari Allah.

Sehingga dikatakan oleh para ‘ulama “paling kuatnya halangan penghalang dari Allah adalah ‘ulama-‘ulama, ahli ibadah, ahli semedi (zikir), sebab sering melekatkan (tekad hatinya) terhadap ‘ilmunya, ibadahnya, atau semedinya (zikirnya).

Jadi akan sangat terhalang orang yang ridho terhadap nafsu, dibarengan dengan ilmunya, ibadahnya, apa pentingnya ‘ilmu orang alim yang ridho terhadap dirinya, sebab menjadikan penghalang  dirinya ke Allah.

Serta apa madhorotnya bodoh bagi orang bodoh yang tidak ridho terhadap nafsunya, sebab dengan adanya tidak ridho bakal menjaga terhadap keaiban dirinya dan bakal bersih, sehingga akan dicintai oleh Allah dan dipilih sampai menjadi orang yang dekat ke Allah serta menjadi kekasih-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah ketiga puluh enam )