Keutamaan berprasangka baik kepada Allah

Siapa orang yang tidak kuasa melaporkan kebutuhan dirinya, maka bagaimana bisa melaporkan kebutuhan yang lainnya. Tegesnya orang yang apes dari melaksanakan keinginan dirinya, maka bagaimana bisa melaksanakan yang lainnya, sebab dua-duanya dho’if, sehingga dikatakan oleh para ‘ulama “siapa saja orang yang hatinya melekat ke selain Allah, maka dia tertipu”

Kalau kita tidak bisa membaguskan sangkaan ke Allah karena melihat bagusnya sifat Allah, maka harus membaguskan sangkaan kita kepada Allah karena melihat penjagaannya Allah terhadap kita. Maka tidak membiasakan Allah terhadap kita kecuali kebaikan, dan tidak membuat kebaikan Allah kepada kita melainkan untuk memberikan karunia.

Penjelasan : sebenarnya husnudhon itu merupakan salah satu dari macam-macam maqom keyakinan terhadap Allah. Artinya husnudhon yaitu berprasangka baik terhadap Allah, seperti kalau berdoa akan diijabah karena melihat baiknya (penyayangnya) Allah, kalau meminta ampun serasa akan diampuni karena melihat ghofuururrohiim nya Allah.

Kita harus ber husnudhon kepada Allah, karena Allah bakal membuat nyata seperti sangkaan kita terhadap Allah. Husnudhon terhadap Allah ada  2 golongan :

  1. Golongan khowas, tegasnya orang pilihan Allah yang tertentu. Karena melihat sifat jamal nya Allah dan sifat kamal nya Allah. Husnudhonnya terhadap Allah tidak putus-putus, baik ketika sedang mendapatkan kenikmatan/kebaikan ataupun ujian. Sebab Allah tidak putus-putus mempunyai sifat rohman rohim dan sifat wujud karim nya.
  2. Golongan ‘awam, golongan yang biasa, m elihat dari kebaikannya Allah. Maka dimana-mana kedatangan oleh sifat qohar nya Allah, tegesnya mendatangkan bencana (kepahitan), maka akan melihat kebaikan Allah yang sudah lewat, yang sudah diberikan ke dirinya. Lalu berprasangka baik bahwa Allah akan membuat kebaikan kepada dirinya, seperti yang sudah diberikan kedirinya dahulu.

Apabila kita tidak bisa husnudhon seperti nomer 1, tegasnya husnudhon ke Allah melihat sifat kesempurnaannya Allah, maka kita harus husnudhon ke Allah karena melihat kepada kuasanya Allah terhadap kita. Sehingga tidak ada 1 detik pun melainkan Allah memberikan kenikmatan kepada kita. Misalnya kesehatan, bisa melihat, bernafas, dll.

Dan dengan kebaikannya Allah itu semata-mata Dia memberikan karunia terhadap kita. Tegasnya kita harus husnudhon karena melihat kebaikannya terhadap kita yang sudah lalu (lewat).

 

 Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah keempat puluh)