Beribadah dan Beramal Hanya Karena Allah

Tidak ada ‘amal yang lebih diharap-harapkan untuk menghidupkan hati daripada ‘amal yang tidak dilihat oleh kita, dan merasa hina wujudnya ‘amal dihadapan kita.

Penjelasan : Obat hidupnya hati itu banyak, tetapi tidak ada yang lebih diharapkan daripada beramal karena Allah dan atas pertolongan Allah. Sehingga dengan merasa bisa beramal semata-mata karena pertolongan Allah swt, tidak dilihat amal tersebut didalam hatinya, tidak melihat jasanya beramal dan dianggap sekedarnya, sebab kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang tidak terbilang, yang diberikan di setiap detik, maka ‘amalnya tidak dianggap seberapa dan tidak diingat-ingat pentingnya. Sehingga kosong atau tidak ada rasa ‘ujub ketika beramal, dan tidak menagih kepada Allah hasil dari beramal.

Nah ‘amal yang dilakukan karena Allah swt, dan memiliki rasa bisa tho’at atas karunia Allah, sehingga tidak membanggakan selain dari bersyukur. Maka ‘amal yang demikian mendekatkan kepada hidupnya hati, sebab jauh dari rasa ‘ujub dan takabur serta riya, yang merupakan penyakit hati.

Apapun ‘amal yang dilakukan oleh kita sudah seharusnya karena Allah (ikhlas), jangan sampai ada rasa riya atau yang lainnya, karena kalau ada rasa seperti itu akan menggugurkan ‘amal kita. Lakukanlah ‘amal sesuai dengan tuntunan syara’, jangan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Ingatlah dunia itu adalah sementara, kita pasti akan mati, dan akan abadi nanti di akhirat. Oleh karena itu di dunia ini kita harus mempunyai (mencari) bekal ke akhirat, karena segala perbuatan kita pasti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kelima puluh tiga)