Adab-Adaban ‘Abdi nya Allah

Adab-adaban bagi orang yang mencari titel kemulyaan, agar sampai ke pangkat mulya, yaitu harus memelihara terhadap ‘amal yang di dhohir kan pada suatu waktu. Artinya dimana-mana Allah swt sudah menempatkan kepada seorang ‘abdi dalam suatu tingkah yang tidak di cacad (dilarang) oleh syara’, seperti santri yang ditempatkan di pesantren untuk menimba ilmu, maka itu harus melanggengkan husnul adab.

Dalam memilih tempatnya orang itu terhadap pekerjaan dan ridhonya terhadap pekerjaan tersebut. Terus manteng nya hati kepada Allah dalam menjaga adab-adaban nya dan harus muwafaqoh terhadap semua keinginan Allah, sehingga nanti Allah yang akan memindahkannya.

Dalam hikmah ini terjadi antara Muallif dengan Rohimahullooh dengan gurunya yaitu Abil ‘Abas al mursi, ketika beliau ingin tajarrud dan meninggalkan kedudukannnya dari ilmu, maka itu seharusnya yang ma’rifat tidak melaksanakan terhadap keinginan Muallif. Nah ini tidak menjawab tentang keinginan guru, bahwa buahnya ma’rifat kepada Allah.

Apabila ingin melepaskan tingkah mencari ilmu dan semangat ingin pindah ke yang lain, terdorong oleh hawa nafsu, bermaksud ingin memburu selain perkara yang sudah di dhohir kan oleh Allah (sepertim mencari ilmu), maka orang itu sudah termasuk orang yang paling bodoh serta tidak ber adab di hadapan Allah swt.

Nah ini merupakan penentangan dari waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah swt. Sehingga oleh ahli tasawuf dianggap sebgai dosa yang paling besar bagi orang yang berusaha untuk mencapai titel mulya. Maka sebagai ‘abdi seharusnya pasrah berserah diri kepada hukum Allah pada waktu itu. Ini semua adalah adab-adaban ‘abdinya Allah dan yang diharapkan dengan ma’rifat kepada Allah swt

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah ketujuh belas)