Pentingnya Beramal Secara Ikhlas

Mengurangi dari mengharapkan rahmat Allah ketika terbukti kesalahan (salah) merupakan sebagian ciri dari berpatokan ke amal. Orang jahilin alghofilin itu sering berpatokan kepada selain Allah, misalnya kepada jabatan/pangkat, harta atau keturunan. Dan yang enteng terhadap ilmu atau ahwal, yang seperti itu. Ini merupakan sifatnya orang bodoh, karena seharusnya berpatokan itu hanya kepada Allah. Sehingga tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Nah dalam pembahasan pertama ini akan dijelaskan cirinya orang yang berpatokan kepada amalnya, yaitu ketika melakukan maksiat, mengurangi roja nya kepada Allah. Sedangkan orang-orang ahli ma’rifat al muwahhidun merasa dirinya dekat dengan Allah, serta melihat dengan mata hatinya bahwa dirinya sedang ditentukan oleh Allah, sehingga tidak daya dan upaya kecuali dengan ketentuan Allah.

Maka dimana-mana mereka goflah atau melakukan ma’siyat kepada Allah, maka sekaligus mereka melihat tentang ketentuan Allah. Ketentuan yang kena kepada dirinya (manusia), seperti melakukan tho’at, maka tidak bisa melaksanakan tho’at kecuali atas ketentuan Allah.

Tidak melihat kekuatan yang ada di dirinya dan kejadian yang diperbuatnya, maka nafsunya itu tumaninah ada di bawah jalan qudrot Allah, maka hatinya tenang dengan cahaya ma’rifat. Tidak ada bedanya tingkah tho’at dan ma’siyat sebab sudah tenggelam dalam lautan tauhid sehingga khouf dan roja nya tidak bisa mengurangi dan menambahi disebabkan tho’at dan maksiat.

Berbeda dengan yang bukan ahli ma’rifat, dia merasa dirinya bisa beramal dan berpatokan terhadap amalnya itu, dan merasa tenagn dengan amalnya. Maka ketika tidak ‘amal atau ma’siyat hatinya jadi mengurangi dan berpatokan ke sebab. Dengan adanya berpatokan ke sebab akan menutup jalan menuju Allah. Ketika seseorang kedatangan sifat ini harus cepat-cepat di robah, yaitu harus berpatokan kepada Allah agar terbuka.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari  (hikmah kesatu)